PENERAPAN BUDAYA POSITIF

Tanggal: Minggu / 02 Januari 2022
penerapan-budaya-positif

PENERAPAN BUDAYA POSITIF

DI SMP SANTO ALOYSIUS SLEMAN

 

Budaya positif adalah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada peserta didik agar peserta didik dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Dalam penerapannya di sekolah, budaya positif ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang positif. Dengan terciptanya lingkungan yang positif bagi peserta didik tentunya akan menimbulkan rasa aman dan nyaman untuk belajar sehingga peserta didik akan semakin bersemangat untuk mengikuti berbagai kegiatan di sekolah.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang positif adalah

A. Strategi dalam pengelolaan kelas.

Dalam pengelolaan kelas, guru dapat menggunakan beberapa gaya, antara lain:

  1. Gaya otoriter

Gaya ini bersifat membatasi dan menghukum. Guru yang otoriter akan menempatkan batas dan kendali yang tegas terhadap peserta didik. Hal ini tentunya akan membuat peserta didik merasa tertekan saat mengikuti proses pembelajaran sehingga akan menghambat penanaman sikap positif pada diri peserta didik.

  1. Gaya permisif

Gaya ini bersifat memberikan lebih banyak kebebasan pada peserta didik tetapi dengan sedikit dukungan dalam mengembangkan keterampilan belajar maupun tingkah laku. Biasanya peserta didik cenderung memiliki keterampilan akademis dan pengendalian diri yang rendah.

  1. Gaya demokratis.

Gaya ini bersifat mendorong peserta didik untuk terbiasa menjadi pemikir dan mandiri tetapi masih tetap dalam pemantauan. Peserta didik lebih banyak dilibatkan untuk terbiasa melakukan presentasi atau belajar menjadi public speaking di bawah bimbingan dan pendampingan guru. Hal ini tentunya akan lebih memungkinkan terbinanya rasa persahabatan antara peserta didik dan guru dengan dilandasi rasa saling percaya.

B. Kesepakatan kelas

Kesepakatan kelas ditetapkan sebagai upaya untuk mewujudkan rasa nyaman saat belajar tanpa adanya keterpaksaan. Kesepakatan kelas ditentukan berdasarkan pendapat yang disepakati bersama oleh seluruh anggota kelas, dalam hal ini tentunya dengan melibatkan peserta didik. Dengan adanya kesepakatan kelas diharapkan peserta didik menjadi lebih disiplin berdasarkan atas kesadaran diri sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan optimal.

 

Dengan terwujudnya lingkungan yang positif tentunya akan mendukung terlaksananya budaya positif. Dalam menerapkan budaya positif di sekolah tentunya guru harus mampu menjadi role mode dan menempatkan diri dalam posisi kontrol sebagai manager sehingga dapat lebih menekankan tumbuhnya kesadaran diri pada peserta didik, bukan karena adanya sangsi/ hukuman.

Penerapan budaya positif di SMP Santo Aloysius Sleman pada saat pembelajaran tatap muka terbatas di masa pandemi covid-19 ini antara lain:

  1. Kesepakatan kelas

Kesepakatan kelas merupakan langkah awal yang dapat digunakan untuk membentuk budaya positif. Sebenanya kesepakatan kelas ini sudah biasa dilakukan bersama dengan wali kelas pada setiap awal tahun pelajaran, hanya saja kesepakatan kelas ini sudah ditentukan dulu oleh wali kelas sehingga peserta didik tinggal mengikuti dan melaksanakannya. Sedangkan dalam rangka membentuk budaya positif, kesepakatan kelas ini dibentuk dengan melibatkan peserta didik dan guru sehingga kesepakatan yang dihasilkan benar-benar merupakan hal yang diinginkan oleh peserta didik. Dengan membentuk kesepakatan kelas bersama dengan peserta didik, harapannya peserta didik akan melaksanakan kesepakatan yang telah disetujui bersama dengan penuh kesadaran diri, tanpa ada paksaan dari pihak manapun.

Berikut ini merupakan gambar saat peserta didik dan guru membuat kesepakatan kelas:

Gambar 1. Peserta didik berdiskusi untuk menentukan kesepakatan kelas dan

menempelkan kesepakatan yang diinginkan di papan tulis

 

Gambar 2. Guru membimbing peserta didik untuk menyimpulkan kesepakatan kelas

yang akan diterapkan.

 

  1. Pembiasaan cuci tangan pakai sabun sebelum masuk kelas

Cuci tangan pakai sabun metupakan salah satu cara yang diterapkan oleh SMP Snto Aloysius Sleman sebagai upaya untuk melaksanakan salah satu protokol kesehatan dalam mencegah penyebaran covid-19 di lingkungan sekolah.

Gambar 3. Peserta didik melakukan pembiasaan cuci tangan pakai sabun serta

mengucapkan salam kepada bapak/ ibu guru

 

  1. Melaksanakan 5S (senyum, salam, sapa, sopan, dan santun)

Dilaksanakan dengan kegiatan memberi salam setiap pagi sebelum KBM. Kegiatan ini dilakukan oleh guru piket dan beberapa pengurus OSIS sesuai jadwal. Tujuannya untuk meningkatkan kebersamaan warga sekolah dan juga untuk lebih menghargai serta menghormati orang lain. Pada masa pembelajaran tatap muka terbatas di masa pandemi ini, yang bertugas menunggu di depan gerbang untuk sementara hanya dilakukan oleh guru piket saja.

 

  1. Mengawali pembelajaran dengan doa dan renungan harian

Setelah mendengarkan renungan dari isi Kitab Suci, diharapkan warga sekolah semakin disadarkan akan kesalahan yang sudah dilakukan. Dari sini diharapkan setiap warga sekolah mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat, sehingga dapat tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan semakin dewasa. Pada masa pembelajaran tatap muka terbatas di masa pandemi ini, kegiatan doa pagi dan renungan harian dipimpin oleh guru dengan melibatkan peserta didik secara bergantian dan dilaksanakan melalui pusat atau yang bertugas memimpin melaksanakan tugasnya melalui ruang khusus sedangkan peserta didik yang lain mengikuti di ruang kelas masing-masing dengan ditunggui oleh guru yang mengajar di jam pertama.

Gambar 4. Guru bersama dengan peserta didik memimpin doa pagi dan renungan

 

Gambar 5. Peserta didik dan guru mengikuti doa pagi dan renungan

di dalam ruang kelas masing-masing

 

  1. Menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya

Kegiatan pembiasaan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dilaksanakan setiap pagi sesudah doa pagi dan renungan serta sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Tujuan kegiatan ini untuk memupuk rasa cinta tanah air seluruh warga sekolah. Sama seperti kegiatan doa pagi dan renungan harian, iringan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ini diputar melalui sentral dan peserta didik dengan guru menyanyikan dari ruang kelas masing-masing.

 

Gambar 6. Peserta didik dan guru menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

di ruang kelas masing-masing

 

  1. Berbaris di depan kelas sebelum masuk ruang ujian

Pembiasaan berbaris di depan kelas sebelum masuk ruang kelas dilaksanakan SMP Santo Aloysius Sleman sebagai salah satu upaya menumbuhkan kedisiplinan pada peserta didik. Kegiatan pembiasaan ini apabila pada masa pembelajaran normal selalu dilakukan setiap akan memulai pelajaran jam pertama dengan ditunggui oleh guru yang akan mengajar di jam pertama sehingga gurupun selalu siap untuk memulai pelajaran. Pada masa pembelajaran tatap muka terbatas di masa pandemi, pembiasaan baris di depan kelas ini dilaksanakan saat peserta didik akan mengikuti ujian. Setelah berbaris, peserta didik masuk kelas dengan terlebih dahulu memberikan salam kepada guru yang menemani. Selain menumbuhkan rasa kedisiplinan, pembiasaan ini juga untuk memupuk rasa atau jiwa persatuan, kebersamaan dan kekompakan, serta dapat memupuk rasa tanggung jawab dan memupuk kesadaran untuk melaksanakan perintah dengan cepat dan tepat

Gambar 7. Peserta didik berbaris di depan kelas sebelum masuk ruang ujian.

 

  1. Presentasi

Dengan terbiasa melakukan presentasi, peserta didik diharapkan dapat lebih menumbuhkan rasa percaya dirinya untuk berbicara di depan umum. Peserta didik akan memiliki keterampilan berbicara sehingga dapat menjadi salah satu cara untuk melatih kemampuan menjadi seorang public speaking, sebagai persiapan untuk memasuki dunia kerja yang juga semakin kompetitif.

 

Gambar 8. Peserta mempresentasikan hasil pekerjaan di depan kelas.

 

  1. Melakukan pemilihan ketua OSIS dengan sistem pemilu

SMP Santo Aloysius Sleman melaksanakan pemilihan ketua OSIS menggunakan sistem pemilu sebagau salah satu upaya untuk menumbuhkan kesadaran demokrasi pada diri peserta didik. Jika pada masa pembelajaran normal pemilihan ketua OSIS dilaksanakan menggunakan kartu suara dan disediakan bilik pemungutan suara, maka pada masa pembelajaran tatap muka terbatas di masa pandemi ini pemilihan ketua OSIS dilaksanakan melalui sistem online. Peserta didik memilih 1 (satu) calon ketua OSIS dengan memilih gambar calon yang disediakan melalui fitur google form. Pemilihan ketua OSIS ini tidak hanya diikuti oleh peserta didik tetapi diikuti juga oleh guru dan karyawan SMP Santo Aloysius Sleman.

Gambar 9. Peserta didik dan guru mengikuti pemilihan ketua OSIS secara online

 

  1. Melestarikan budaya daerah

Untuk menumbuhkan rasa cinta pada kebudayaan daerah sekaligus untuk melestarikannya, salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh MP Santo Aloysius Sleman adalah karawitan. Karawitan ini pada even tertentu dipadukan dengan paduan suara maupun seni tari.

Gambar 10. Peserta didik mengikuti kegiatan karawitan

 

Budaya positif di atas merupakan beberapa kegiatan yang dapat dilaksanakan di SMP Santo Aloysius Sleman dalam masa pandemi dan pembelajaran tatap muka terbatas. Dari penerapan budaya positif yang sudah dilaksanakan di SMP Santo Aloysius Sleman tersebut tentunya tetap membutuhkan adanya perbaikan untuk pelaksanaan di masa yang akan datang sehigga harapannya budaya positif yang dilaksanakan dapat semakin disadari oleh seluruh warga sekolah terutama peserta didik. Untuk itu tentu dibutuhkan adanya kesadaran diri untuk selalu menjaga dan melaksanakan komitmen yang sudah dibentuk bersama serta butuh konsintensi dalam pelaksanaannya. Tentunya butuh komunikasi dan kolaborasi positif antar seluruh warga sekolah, dalam hal ini guru, peserta didik, dan orangtua supaya dapat saling menjaga kesepakatan / motivasi.

 

 

Franxischa Sutriyantini, S.Pd

CGP Angkatan 3

SMP Santo Aloysius Sleman